saat ingatan & jari jemari berpelukan, tak ada yang mampu membuatmu berhenti menulis.

Terbaru

10.25 pm

tentang senyum kamu, bintang … selalu saja dapat membuatku ikut tersenyum karenanya … entahlah … ada sesuatu pada tarikan kedua sudut bibir kamu itu yang dapat membuatku merasakan sesuatu yang teramat nyaman … meski hanya dengan memandanginya … meski hanya dapat kunikmati dengan kedua mataku … meski hanya melalui selembat kenangan bersama kamu dalam genggamanku … lengkungan bibir kamu itu dapat memberikan kenyamanan pun kedamaian tiada tara … setidaknya, untukku.

— maaf, aku belum selesai mencintaimu, Bintang.

[Posted from WordPress for Blackberry]

Iklan

9.10 am

Selamat pagi kamu,

Bagaimana kabarmu hari ini? Kuharap, mentari yang hangat tetap terbit dari kedua matamu, seperti dulu saat bersamaku.

Kemarin, tanpa sengaja aku melewati rumahmu. Dan tetiba, kembalilah segala kenangan bersamamu yang masih saja bersemayam di sekujur ingatanku. Tempat di mana dulu, kita terbiasa melepas rindu setelah berjibaku dengan rutinitas harian kita masing-masing. Tempat di mana dulu, kamu terbiasa berbaring hingga lelap di sisiku. Dan tempat di mana dulu, aku terbiasa meronce satu-dua larik sajak dari guguran nafasmu yang memenuhi langit kamar. Malam terlihat sangat indah saat bersamamu. Dan pagi hari, selalu terasa hangat saat matahari pagi terbit dari cakrawala matamu.

Segala ingatan tersebut, telah kuabadikan dalam sekujurku, pun dalam bait-bait puisi. Saat-saat bersamamu, adalah rentangan waktu yang takkan pernah kulupakan, hingga kapanpun juga.

— Sebab, aku belum selesai mencintaimu, Bintang.

[Posted from WordPress for Blackberry]

8.28 am

Acara reuni telah selesai. Di sana hadir beberapa kawan lama dari masa sekolah menengah pertama. Sebelum pulang, semua saling berpamitan satu sama lainnya, sekaligus bermaaf-maafan. Aku pun menyalami semua kawan yang hadir di sana. Satu per satu kuhampiri, dan kusalami sambil mengucap mohon maaf lahir dan batin. Memohon maaf atas semua kesalahan yang pernah dilakukan, juga mengucapkan selamat hari raya kepada yang merayakannya.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba seorang wanita berdiri tepat di hadapanku. Kedua matanya menatapku. Dalam, sangat dalam. Tatapan mata yang penuh kehangatan cinta. Membuat semerbak rindu memenuhi sekelilingku. Menggeletarkan sesuatu di dalam dada. Membuat diriku serasa berada di nirwana, bermain-main dalam kelembutan gumpalan awan. Dengan penuh kelembutan, kedua tangannya yang mungil meraih wajahku. Mengusapnya perlahan, penuh kasih sayang. Sembari sesekali menggelitik daun telingaku dibarengi dengan tarikan kedua sudut bibirnya. Manis. Manis sekali senyuman itu. Ada suatu denyar dalam hati pada sentuhan lembut kedua tangannya pada wajahku.

Perlahan, ia membasahi bibirnya, dan perlahan merapatkan wajahnya kepadaku. Nafasnya tertahan, lalu ujung bibirnya menyentuh tepi bibirku. Seketika bibirnya melumat bibirku, dan desahan nafasku beradu dengan nafasnya. Aku balik melumat bibirnya, dan ia membelai leherku dengan jemarinya yang hangat. Aku semakin terbawa olehnya. Tanpa diatur, kedua tanganku mendekap dan memeluk pinggangnya yang mungil.
Dapat kurasakan debaran jantung pada basah bibirnya pada bibirku. Sebuah ciuman penuh rindu dan kasih sayang. Beberapa lamanya ia menciumku. Aroma nafasnya dapat kurasakan dengan indra penciumanku. Keharuman kasih sayang darinya. dipenuhi cinta kasih dan rasa rindu yang teramat. Darinya, hanya untukku seorang.

Setelah beberapa saat lamanya, ia pun melepaskan tautan bibirnya yang basah oleh kerinduan. Dan kembali menatapku dengan kehangatan mentari pagi dan keindahan langit senja, pada kedua cakrawala matanya. Kemudian ia memelukku dengan erat. Sangat erat. Membuat irama jantungnya bersaut-sautan denganku.

Aku mengenal lengkungan senyum itu, pun kehangatan dan keindahan cakrawala matanya. Karena aku pernah mengecupkan sebersit kerinduan pada keningnya yang ditutupi rambut keemasan serupa matahari. Aku tak dapat berucap sepatah kata pun padanya. Tak ada yang dapat kulakukan. Kecuali memberikan cinta yang lebih besar dari sebelumnya. Aku belum selesai mencintai wanita tersebut. Hingga sekarang, hingga esok dan hingga entah.

Sebab wanita tersebut, adalah kamu.

*

Beberapa jam sebelumnya, tepat pada malam Lailatul Qadar, aku berdoa kepada-Nya. Bertanya ke dalam hati, serta memohon petunjuk-Nya. Haruskah aku meninggalkan semestamu? Ataukah mencintaimu lebih besar lagi daripada sebelumnya? Dan Ia memberiku jawaban-Nya.

— Maaf, aku belum selesai mencintai dirimu, Bintang.

[Posted from WordPress for Blackberry]

10 am

Apakah kamu mengetahui alasan mengapa aku mencintaimu? Kalau kautanyakan padaku, jujur, aku tak mengetahuinya. Apakah kita butuh alasan untuk mencintai seseorang? Apakah kamu butuh alasan mengapa aku mencintaimu? Kurasa, tidak. Setidaknya, untukku.
Dengan berada di dekatmu, aku merasakan kenyamanan yang tiada tara. Dengan bersamamu, aku menjadi seseorang yang sangat utuh. Dan dengan menjadi pendampingmu, kebahagian telah meragap sekujurku. Hingga kini, hingga sekarang, dan hingga entah.
Jika suatu saat engkau pergi, aku (ingin) tetap mencintaimu. Mencintai dirimu meski bersama ketiadaan. Mencintai segala momen dalam kebersamaan denganmu. Dan mencintai dirimu yang tiada.
Mencintaimu ialah satu-satunya jalan, agar kebahagiaan tetap meragap pada sekujurku, dalam kesendirian.
Sebab dengan tetap mencintaimu, aku telah menyelamatkan kebahagiaan dari kehilangan.

— Maaf, aku belum selesai mencintaimu, Bintang.

[Posted from WordPress for BlackBerry]

a thousand years

Heart beats fast,
Colors and promises,
How to be brave,
How can I love when I’m afraid to fall,
But watching you stand alone,
All of my doubt suddently goes away somehow,

One step closer,

I have died everyday waiting for you,
Darlin’ don’t be afraid,
I have loved you for α thousand years,
I’ll love you for α thousand more,

Time stands still,
Beauty in all she is,
I will be brave,
I will not let anything take away,
What’s standing in front of me,
Every breath,
Every hour has come to this,

One step closer,

I have died every day waiting for you,
Darlin’ don’t be afraid,
I have loved you for α thousand years,
I’ll love you for α thousand more,

And all along I believed I would find you,
Time has brought your heart to me,

I have loved you for α thousand years,
I’ll love you for α thousand more,

One step closer,

One step closer,

I have died everyday waiting for you,
Darlin’ don’t be afraid,
I have loved you for α thousand years,
I’ll love for α thousand more,

And all along I believed I would find you,
Time has brought your heart to me,
I have loved you for α thousand years,
I’ll love you for α thousand more,

— christinna perri

[Posted from WordPress for BlackBerry]

6.33 am

Ternyata, susah ya melupakan kamu. Senyum kamu itu lho. Tarikan kedua sudut bibir merah milikmu itu. Lengkungan sepasang rekah bibir kamu itu. Ngga ada wanita lain yang bisa memiliki senyum penuh keriaan seperti milik kamu itu. Sekulum senyum ceria yang dapat membuat semesta sekelilingmu ikut tersenyum saat melihatnya, dan ikut merasakan kebahagiaan yang kaupancarkan daripadanya. Hebat!

Ada yang tersenyum hanya di bibirnya saja tanpa keriaan pada sekujurnya. Ada yang tersenyum di atas kekosongan dirinya dan tarikan sudut bibirnya hanya berusaha sekedar menghibur. Ada juga yang tersenyum dari hatinya yang sewarna dengan rona bibirnya. Dan pastinya kamu udah tahu kan, senyum kamu yang mana? Meski terkadang, sekelebat luka dari masa lalu berusaha kamu tutupi di balik lengkungan bibir itu. Tapi tetap saja. Senyum kamu itu… Juara!

Lagi, dan lagi, senyum kamu selalu membuatku terjatuh. Aku akan terus berusaha bangkit; dan untuk terjatuh kembali. Kepada kamu, tentu saja.

— Maaf, aku belum selesai mencintaimu, Bintang.

[Posted from WordPress for BlackBerry]

00.18 am

teruntuk kamu yang disana,

hingga saat ini, aku masih saja mengagumi senyuman milikmu. sebab lengkungan bibir merah itulah yang pertama kali membuatku terjatuh. tak pernah bosan aku melihatnya. sebab di balik senyum itu, ada setangkup keriaan yang kaupendarkan dari kedua matamu. membuat siapa saja yang melihatnya, akan merasakan kebahagiaan yang kaurasakan, terlebih aku.

meski aku membaca senyum pada bibirmu sebagai keceriaan, terkadang kedua matamu masih saja menceritakan kepedihan yang pernah kaualami di masa silam. namun kepedihan itu kerap kaututupi dengan keriaan pada dirimu, pada sekujurmu.

mungkin, bila aku bisa membalikkan waktu, aku ingin kembali kepada saat engkau terlelap di sisiku. dan aku, akan terus menemanimu, hingga pagi membuka cahaya dari cakrawala matamu. tanpa mempedulikan waktu yang terus berlari dengan angkuhnya, untuk segera mengakhiri ketenangan yang kaudapat dalam pejam matamu.

aku akan tetap di sini untuk menunggumu. menunggu, hingga kebahagiaan kembali datang dan merangkulmu, dan menghapus kepedihan yang pernah kaurasakan dalam geletar dadamu. ada secercah harapan dariku, bahwa kebahagiaan yang akan kaudapat nanti, adalah bersamaku.

sebab kebahagiaan yang belum kaudapatkan, ada di tangan Tuhan; dan tersimpan rapi di dalam dadaku.

— Maaf, aku belum selesai mencintaimu, Bintang.

[Posted from WordPress for Blackberry]

RiderTua

Old Rider Who Like About Motorcycles

Peace of Mind

lessons I learn in life, through life.

RADITYA Nugi

Melangkah dalam kata-kata

Di Tubir Mimpi

Patience, Persistence, and Perspiration... | Penikmat Puisi dan Sastra juga Penyayang Kata

disatannos.wordpress.com/

catatan dari pinggir kota.

Diki Umbara

"Di balik layar televisi dan hal-hal lainnya"

kupukupukertasku

sayap-sayap yang bisa bercerita

penjahit huruf

Aku adalah Dalang dari senyummu

asemasem

Just another WordPress.com site

rumahkatakoe

Tidak semua kata yang tertulis dapat kau pahami, seperti halnya tidak semua yang kau pahami dapat dituliskan dengan kata-kata ~

EmaRachmawati

Rasaku, Ciptaku, Mimpiku -- ya Inilah!

IRONI HARMONI

Tersesatlah disini, bersamaku. Di antara deret aksara.

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

Read Mey's Minds

Love, life, education. Hateful thoughts, sometimes

:: artistic_daisy ::

Tentang Rasa dan Pemikiran

The Blings of My Life

catatan-catatan Lala Purwono

The Daily Journal

Self / People / Stories / Activities / Things / Random

a beautiful mistake

.it's my own world.

ingga's blog

n' the story goes..

tengkuar

Adalah hasil luapan pikiran. Itu saja.